- This event has passed.
About The Event
SEGERA TERBIT

Evolusi Gelar Strategis Operasi Militer Selain Perang (OMSP) Dalam Menavigasi Perang Informasi di Era Digital
Penulis
Dr. Hariono, S.H., S.E., M.H.
Prof. Dr. La Ode Husen, S.H., M.Hum.
Kolonel Inf. Dadang Alex, S.Sos., M.M.
Andi Raja Nasution, S.H., M.H.
Hj. Savina, S.H.
Mutiara Citra Septialzi, S.H.
Jumlah/Tebal Halaman
350 halaman
Ukuran Buku
17,6 x 25 cm / B5
ISBN
Dalam Proses
Harga
Rp. 185 – 205.000
Penerbit
UTama Press
Sinopsis Singkat
Evolusi Gelar Strategis Operasi Militer Selain Perang (OMSP) Dalam Menavigasi Perang Informasi di Era Digital
Perang pada abad ke-21 tidak selalu hadir melalui letusan senjata, pergerakan pasukan, atau pertempuran terbuka; tetapi dapat hadir secara senyap melalui layar, algoritma, arus informasi, manipulasi narasi, dan rekayasa persepsi. Pertarungan strategis kini semakin bergeser ke ruang informasi, siber, digital, dan kognitif—ruang tempat persepsi, emosi, keyakinan, nalar, dan kepercayaan publik menjadi bagian dari medan kontestasi.
Dalam lingkungan strategis yang semakin phygital—ketika ruang fisik dan ruang digital saling berkelindan—batas antara ancaman nyata dan ancaman perseptual menjadi semakin tipis. Sebuah informasi dapat memengaruhi persepsi sebelum fakta terverifikasi; sebuah narasi dapat mengubah perilaku sebelum sebuah kebijakan dipahami; bahkan sebuah disinformasi dapat menciptakan keretakan sosial tanpa satu pun peluru ditembakkan. Karena itu, kedaulatan negara tidak lagi cukup dipertahankan hanya dengan kekuatan militer konvensional. Negara juga dituntut memiliki kemampuan untuk melindungi ruang kognitif masyarakatnya.
Buku Evolusi Gelar Strategis Operasi Militer Selain Perang (OMSP) dalam Menavigasi Perang Informasi di Era Digital hadir sebagai upaya merefleksikan sekaligus merekonstruksi konsep OMSP agar tetap relevan menghadapi perubahan karakter ancaman dan kompetisi strategis. Buku ini berangkat dari sebuah pertanyaan mendasar: bagaimana gelar strategis pertahanan harus berevolusi ketika medan kontestasi tidak lagi hanya berupa wilayah geografis, tetapi juga berupa ruang kognitif tempat persepsi, emosi, keyakinan, dan perilaku masyarakat dapat dipengaruhi?
Pertanyaan tersebut membawa pembaca menelusuri evolusi OMSP dari perspektif historis dan strategis: mulai dari perubahan lingkungan keamanan nasional, transformasi karakter ancaman, munculnya aktor non-negara, berkembangnya operasi pengaruh, hingga pergeseran gelar strategis dari dominasi orientasi kinetik menuju pendekatan yang semakin terintegrasi dengan dimensi informasi dan kognitif.
Pada titik inilah buku memperkenalkan kebutuhan akan paradigma baru. Phygital warfare menunjukkan bahwa konflik tidak lagi berlangsung secara terpisah antara ruang fisik dan digital. Kedaulatan epistemik menegaskan pentingnya kemampuan suatu bangsa untuk menjaga kapasitasnya dalam mengetahui, memahami, dan menilai realitas secara mandiri. Ekosistem informasi strategis memperlihatkan bahwa informasi bukan sekadar komoditas komunikasi, melainkan bagian dari infrastruktur ketahanan nasional. Sementara itu, etika kekuatan, legitimasi moral, dan dilema keamanan siber mengingatkan bahwa kemampuan negara untuk bertindak harus selalu berjalan beriringan dengan hukum, etika, akuntabilitas, dan kepercayaan publik.
Dari perspektif tersebut, buku ini kemudian membangun gagasan mengenai arsitektur pertahanan kognitif. Pertahanan tidak semata-mata diarahkan untuk menangkal serangan setelah terjadi, tetapi juga membangun daya tahan masyarakat sebelum manipulasi informasi memperoleh pengaruh yang luas. Inokulasi informasi, digital sociology, narasi strategis, digital storytelling, resiliensi emosional, deteksi dini disinformasi berbasis kecerdasan artifisial, hingga pemulihan naratif ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem ketahanan kognitif.
Namun, pertahanan kognitif tidak dapat berdiri sendiri. Ia membutuhkan kemampuan negara untuk melihat situasi secara utuh, membaca perubahan secara cepat, dan menghubungkan informasi menjadi keputusan strategis. Karena itu, gagasan tersebut dioperasionalkan melalui integrasi intelijen, Common Operating Picture, interoperabilitas data, manajemen krisis, serta kolaborasi Whole-of-Government yang berkembang menuju pendekatan Whole-of-Nation. Negara tidak lagi cukup bekerja melalui institusi secara sektoral; diperlukan orkestrasi lintas lembaga dan keterlibatan masyarakat sebagai bagian dari ekosistem ketahanan nasional.
Buku ini menawarkan agenda transformasi Gelar Strategis OMSP melalui penguatan doktrin, organisasi, sumber daya manusia, intelijen, regulasi, pendidikan, teknologi, serta roadmap implementasi. Transformasi tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan kekuatan konvensional, melainkan memperluas cara pandang terhadap pertahanan: dari sekadar menjaga wilayah dan menghadapi ancaman fisik menuju kemampuan menjaga ruang informasi, ruang digital, dan ruang kognitif sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kedaulatan nasional.
Dalam perang informasi, medan yang paling menentukan terkadang bukanlah medan yang dapat dipetakan secara geografis. Tetapi berada di dalam cara sebuah bangsa melihat dirinya sendiri, memahami realitas, mempercayai informasi, dan menentukan sikapnya terhadap masa depan.
Kemenangan dalam perang informasi tidak selalu ditandai oleh kemenangan dalam sebuah pertempuran. Kemenangan dapat hadir ketika negara mampu menjaga nalar publik tanpa mematikan kebebasan berpikir, membangun ketahanan tanpa menciptakan ketakutan, mempertahankan legitimasi tanpa kehilangan akuntabilitas, serta menjaga kepercayaan publik tanpa mengorbankan kebenaran.
Pada akhirnya, pertanyaan strategis kita bukan lagi semata-mata seberapa kuat negara mampu menghadapi serangan, melainkan seberapa tangguh sebuah bangsa mampu mempertahankan kemampuan untuk berpikir, mempercayai, dan menentukan masa depannya sendiri di tengah arus informasi yang tidak pernah berhenti. (Lili Irahali, 29 September 2026)
